Konsep “Back to Exercises of Ourself “ sebagai Titik Tolak Menuju Indonesia Baru

Hamid Arif Shodiqi
d/a SMP Negeri 2 Bontang Jl. Ir. H. Juanda Bontang selatan
Bontang KALTIM

Essay ini telah dipresentasikan pada lomba penulisan surat dan essay nasional II, dan telah memperoleh juara favorit I (atas nama saya sendiri: Hamid Arif Shodiqi)

Konsep “Back to Exercises of Ourself “ sebagai Titik Tolak
Menuju Indonesia Baru

Oleh
Hamid Arif

Dahulu ketika kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Bapak dan Ibu guru selalu dengan bangga bercerita bahwa Indonesia merupakan Negara besar “GEMAH RIPAH LOH JINAWI TOTO TENTREM KARTO RAHARJO”, apapun biji tanaman yang ditanam dapat tumbuh dengan subur, rakyat hidup dengan makmur, tentram aman serta damai. Mempunyai berbagai warisan kebudayaan yang tiada terkira nilainya, baik peninggalan kebudayaan yang berbentuk fisik maupun warisan kebudayaan yang non fisik. Wilayah negara kita terbentang mulai dari Sabang sampai Merauke terdiri dari berbagai pulau besar serta pulau-pulau kecil dan terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Namun kalau kita cermati dengan seksama realita serta fenomena permasalahan yang ada pada saat ini, kebanggaan terhadap bangsa dan negara Indonesia tercinta ini akan menemui titik keprihatinan yang sangat mendalam.
Banyak sekali permasalahan yang timbul dan menimpa bangsa dan negara tercinta ini, masalah bencana alam yang terus menerus secara beruntun menimpa. Ada yang dinamakan bencana alam Nasional, bencana alam lokal, padahal yang tertimpa adalah bagian dari bangsa kita juga, mengapa harus dibeda-bedakan? Wakil rakyat yang seharusnya menyampaikan serta mengakomodir kepentingan rakyat ternyata hanya mementingkan diri mereka sendiri serta kepentingan partainya, pemerintahan yang dijanjikan akan bersih dari KKN ternyata juga tak kunjung terealisasi, aparat keamanan yang mestinya bisa melindungi dan mengayomi rakyat ternyata malah menjadi backing dari berbagai tindak kejahatan, koruptor-koruptor kelas kakap tidak kunjung ditindak, masalah kenaikan BBM, dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan yang sangat memprihatinkan lainnya.
Sebenarnya permasalahan-permasalan yang timbul tersebut dapat dikategori-kan ke dalam dua bagian, yaitu: sebagai suatu musibah dan sebagai suatu azab. Sebagai suatu musibah, sebab permasalahan yang menimpa bangsa ini dapat kita jadikan sebagai suatu peringatan, serta pelajaran. Setiap bangsa yang maju, harus selalu cerdas dalam menyikapi setiap fenomena yang sedang berkembang. Dan perlu kita sadari, bahwa bangsa kita memang masih dalam taraf belajar dalam menemukan jati dirinya untuk dapat menjadi suatu bangsa yang dewasa. Suatu hal yang wajar pula dalam setiap proses belajar ini harus bertemu dengan berbagai lika-liku permasalahan, mulai dari yang bersifat sederhana sampai permasalahan yang sangat pelik. Bangsa Amerika berkembang dan tumbuh menjadi bangsa yang maju tidak dicapai hanya dalam waktu puluhan tahun saja, melainkan dalam waktu lebih dari 2 abad, terhitung mulai dari kedatangan bangsa-bangsa barat ke Benua tersebut.
Sebagai azab, sebab perilaku bangsa ini telah banyak menyimpang dari tuntunan serta tata aturan, baik dari Tuhan Yang Maha Esa maupun tata aturan yang dibuat dan disusun oleh manusia itu sendiri, misalnya: permasalahan KKN, maraknya penyalahgunaan obat-obat terlarang dan psikotropika, bentuk-bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan perilaku kriminal, misalnya: pelecehan seksual, kasus perkosaan, perampokan, penganiayaan, dan pembunuhan.
Sekarang pertanyaannya, apakah kita telah sadar untuk selalu berusaha instrospeksi diri disertai dengan tekad serta semangat yang kuat untuk mengupayakan solusi permasalahan-permasalahan yang telah terjadi? Sebab, segala permasalahan yang menimpa bangsa ini, sudah tidak menjadi tanggung jawab orang-perorang, departemen ataupun pihak-pihak tertentu lagi. Melainkan, merupakan tanggung jawab nasional bangsa Indonesia itu sendiri.
Jika kita cermati secara seksama, pola-pola permasalahan tersebut berakar dari satu pokok permasalahan klasik yang telah menghinggapi manusia sejak zaman baheula, yaitu penyakit lalai. Misalkan, jika sudah menjadi anggota dewan ternyata banyak yang lalai dari mana mereka berasal, lalai terhadap segala janji dan aspirasi rakyat yang harus disuarakan, padahal ketika masih menjadi aktivis dahulu, ia adalah yang paling getol dan paling vokal mensuarakan penderitaan rakyat. Jika jadi artis banyak yang lalai dengan tugas mereka yang sebenarnya, yaitu sebagai public figur yang seharusnya patut ditauladani oleh masyarakat. Tetapi mereka malah bersifat dan bersikap sebaliknya, yaitu memberikan contoh yang kurang baik misalnya: kasus kawin-cerai serta porno aksi. Jika jadi mahasiswa banyak yang lalai, bahwa tugasnya adalah sebagai (meminjam istilah dari Sowwam) agent of change, sekaligus juga center of excellent, sehingga ia bisa memperkuat setiap langkahnya dengan landasan ilmiah dalam menyikapi setiap fenomena yang ada.
Jika jadi aparat keamanan, banyak yang lalai dengan tugas mengayomi serta menjaga keamanan masyarakat. Malah ada kasus aparat keamanan mem-backingi berbagai tindak kejahatan atau bahkan dia adalah termasuk pelaku tindak kejahatan itu sendiri. Jika jadi aparat birokrasi, banyak yang lalai bahwa ia adalah abdi masyarakat yang selalu siap melayani kepentingan dan segala urusan dengan hal birokrasi, tetapi pada kenyataannya malah mempersulit dan membebani masyarakat dengan berbagai pungutan, padahal mereka telah menerima gaji serta tunjangan yang memadai. Sebagai umat beragama, banyak yang lalai dengan aturan-aturan agama yang harus ditaati, bahkan banyak yang melanggar larangan-larangan dalam tuntunan agama serta menjauhi segala apa yang diperintahkan dalam aturan-aturan tatanan agama, dan celakanya penyakit tersebut dilakukan berulang-ulang terus secara turun temurun.
Oleh karena itu, untuk kembali sebagai bangsa yang maju serta beradab, perlu kiranya untuk kembali kepada apa yang dinamakan konsep Back to Exercises of Ourself. Konsep Back to Exercises of Ourself merupakan suatu upaya untuk selalu bersikap dan bertindak atas dasar tugas pokok dan fungsi serta profesi kita masing-masing dengan dasar tuntunan serta tata aturan yang berlaku, untuk kemudian selalu berusaha dengan sekuat tenaga menunaikan tugas pokok dan fungsi kita tersebut, baik sebagai makhluk individu yang taat tuntunan agama maupun makhluk sosial dengan sebaik mungkin.
Disini kita dengan sadar dan sepenuh hati berkonsentrasi untuk selalu menunaikan profesi dan tugas pokok serta fungsi kita sehari-sehari dengan sesempurna mungkin, yang berprofesi menjadi petani mampu menunaikan tugasnya diladang maupun di sawah dengan baik, yang berprofesi nelayan mampu menunaikan tugasnya dalam berlayar dan mencari ikan di laut dengan baik, yang berprofesi menjadi pengusaha mampu menjadi pengusaha yang baik, yang berprofesi menjadi anggota TNI maupun Polisi benar-benar mampu menjadi pengayom serta pelindung masyarakat dengan baik, yang berprofesi menjadi anggota dewan dapat memposisikan dirinya sebagai legeslator yang baik, yang duduk di pemerintahan mampu menjadi abdi masyarakat serta eksekutif sekaligus birokrat yang baik, yang menjadi penegak hukum dalam melaksanakan fungsinya sebagai yudikatif dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan akhirnya kita sebagai rakyat dapat memposisikan diri kita serta melaksanakan tugas kita masing-masing dengan baik.
Dengan berlatar belakang akan kesadaran serta tekad dan semangat menunaikan tugas dan profesi kita sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial dengan sebaik mungkin secara total tersebut, kita nantinya tidak akan saling menyalahkan atau saling menuduh antara satu dengan yang lainnya apabila terjadi suatu kekeliruan, tetapi ia akan dengan segera bersama-sama bahu-membahu memperbaiki kekeliruan tersebut, sebab masing-masing telah paham dan mengerti akan tugasnya, selain itu dengan adanya upaya untuk selalu berupaya mem-perfect-kan diri pibadi tersebut, nantinya dapat tercipta manusia-manusia indonesia yang handal, disini pembangunan bangsa Indonesia dimulai dari sosok-sosok pribadi yang perfect terhadap tugas-tugas mereka, dari pribadi-pribadi tersebut akan terbentuk bangsa Indonesia seutuhnya yang tahan banting terhadap segala macam tantangan perubahan di era millenium ini, sehingga apa yang selama ini kita impikan, yaitu bangsa indonesia dengan sebutan “GEMAH RIPAH LOH JINAWI TOTO TENTREM KARTO RAHARJO”, dapat segera terealisasikan. (Amiin).

Hamid Arif Shodiqi
Sarjana Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang
dan sekarang sedang menempuh program master Kependidikan jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Mulawarman

Serta Aktivis lingkungan hidup

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: